MATUR-AGAM, SMA Negeri 1 Matur Kabupaten Agam Sumbar menggelar kegiatan P5
(Program Penguatan Profil Pelajar Pancasila) yang diawali dengan Parade Pawai yang dimulai dari komplek SMAN 1 Matur menuju Pasar Lawang Tigo Balai dan langsung hadir dihalaman
Kantor Walinagari Lawang dan Tigo Balai, senin (27/05/2024).
Pada acara pawai tersebut seluruh keluarge besar SMAN 1 Matur, siswa kelas
X dan XI, Guru dan Komite ikut memperagakan pakaian dan budaya pada 4 (empat) Nagari yang ada
di Kecamatan Matur seperti Kapalo Ameh Nagari Lawang, Kapalo Ameh dari Tigo
Balai, Nasi Gadang di Nagari Matua Hilia dan Nasi Gadang Matua Mudiak.
Parade pawai tersebut berhenti sejenak dan mengekspost
P5 ini di Kantor Walinagari Lawang dan Tigo Balai. Selain
Walinagari Lawang dan Tigo balai dihadiri juga pengawas SMA wilayah I Sumatera Barat,
Camat Matur, Bamus Nagari Lawang beserta warga sekitar pasar lawang dan tigo balai.
Camat Matur Zulkifli Zulfikar menyampaikan dalam sambutannya,
"kami sangat mengapresiasi kegiatan P5 yang dilaksanakan oleh siswa SMAN 1
Matur. Semoga siswa-siswa terus belajar dan berkarya dengan semangat pancasila.
Jadilah pelajar yang berkarakter, berprestasi dan berkontribusi positif bagi
masyarakat.
Beliau menambahkan, "ini yang di
praktekkan adalah adat dan budaya 4 (empat) nagari di dikecamatan matur, kami
berharap karena nagari di kecamatan kita ada 6 (enam) jadi tahun berikutnya
mengangkatkan adat dan budaya enam-enam nagari di kecamatan kita". Ungkapnya.
Setelah acara di kantor Walinagari Lawang dan
Tigo Balai ini berakhir, pawai di lanjutkan ke sekolah dan acara resmi dilanjut
di gedung SMAN 1 Matur yang sama-sama dihadiri seperti di kantor Walinagari ini.
LAWANG-AGAM, Jorong Katapiang Nagari Lawang
Kecamatan Matur dipastikan meraih juara umum dalam ajang Pekan Olahraga dan
Seni Budaya Nagari Lawang Tahun 2024. Penyerahan Juara umum ini langsung
diterima oleh Harzel Wali Jorong Katapiang pada Malam Puncak dan Penutupan PORSENI
Nagari Lawang Tahun 2024, minggu (26/05/2024)
Piala juara umum ini diserahkan langsung
oleh Walinagari Lawang serta Piagam Penghargaan diserangkan oleh Bamus dan KAN Nagari Lawang di saksikan oleh seluruh atlet-atlet Jorong Katapiang pada
malam acara Penutupan PORSENI Nagari Lawang Tahun 2024.
Jorong Katapiang menjadi juara umum
ditentukan setelah menang dari Lawang Tuo pada cabang olahraga sepak bola di
laga Final pada hari jum’at 24 mei 2024. Dengan kemenangan 3-0 Jorong Katapiang
dipastikan juara umum, dikarenakan Jorong Buayan yang turun menjadi posisi kedua karena kalah selisih medali perak, akan tetapi medali emas, Jorong Katapiang dan
Buaya sama-sama memperoleh 5.
Pada posisi 3 diraih oleh Jorong Batu Basa
dengan 4 emas, 3 perak dan 7 perunggu, posisi 4 adalah Jorong Gajah Mati dengan
3 emas, 7 Perak dan 6 perunggu. Pada posisi 5 diduduki oleh Jorong Lawang Tuo hanya
1 emas, 2 perak dan 1 perunggu. Dan posisi akhir adalah Jorong Pabatuangan
hanya memperoleh 1 medali perunggu.
LAWANG-AGAM, Ajang Pekan Olahraga dan Seni
Budaya (PORSENI) Nagari Lawang Tahun 2024 selesai dan resmi ditutup. Sama
seperti pembukaan, pada tanggal 5 Mei lalu, acara penutupan ini bahkan lebih
meriah lagi, minggu (26/05/2024)
Kemeriahan kegiatan penutupan ini yang
dilaksankan di gedung serba guna Nagari Lawang, diisi dengan berbagai atraksi
kesenian dan lainnya yang ada dinagari lawang, seperti pencak silat, tarian,
kesenian tambua.
Pada acara penutupan tersebut lebih kurang
dihadiri lebih dari 1000 orang warna Nagari Lawang dan sekitarnya memadati
ruangan tersebut. Tentunya tamu dan undangan khusus Pemerintahan Nagari Lawang
yang hadir seperti Bamus, KAN, engku Niniam Mamak, penggiat seni dan lainnya.
Walinagari Lawang Franki Putra
menyampaikan dalam penutupannya, “Acara kita ini tidak terlepas dari dukungan dan
kerja keras para panitia serta para perantau YBKL yang sudah mensuport
terselenggaranya kegiatan porseni ini dari tanggal 5 sampai 25 Mei 2024.
Beliau menambahkan, “kegiatan Porseni ini mendapatkan
respon dari Pemerintahan Daerah bahkan Provinsi karena kita mengangkat salah
satu cabang olahraga besar yaitu Paralayang, karena olahraga paralayang ini hanya
terselenggara paling rendah tingkat provinsi, tidak ada yang dilaksanakan seperti
kita ini tingkat nagari atau desa ataupun setingkat rt/rw”. Ungkapnya.
LAWANG-AGAM, Pemerintahan Nagari Lawang menggelar Festival Parade Marandang Khas Nagari Lawang yang
dilaksanakan di halaman Kator Kerapatan Adat Nagari Lawang (KAN) Jorong
Katapiang, Sabtu (25/05/2024)
Kegiatan ini
merupakan rangkaian acara Festival Pesona Nagari Lawang, Pekan Olahraga Nagari
Lawang Kecamatan Matur Kabupaten Agam Tahun 2024
Wali Nagari Lawang,
Franki Putra yang kami temui mengatakan, "kegiatan parade marandang ini,
adalah rentetan acara Festival Pesona Nagari Lawang dari Pekan Olahraga dan
Seni Budaya Nagari Lawang tahun 2024.
"Dengan Randang
Lawang ini semoga menjadi salah satu produk UMKM di Nagari Lawang yang diminati
di berbagai daerah". tambah beliau.
goresantangan.com, Lawang-Matur - Prosesi adat Takuak Hari salah satu rentetan
acara Batagak Pangulu Pasukuan Caniago Nan Sambilan Nagari Lawang berjalan hikmat
dan lancar. yang dilaksanakan di Tanah Sirah Jorong Ketaping Nagari Lawang, selasa
(21/12/2022).
Acara Takuak Hari tersebut dihadiri oleh engku
Niniak Mamak Nan 30 dikato Nagari Lawang dari pasukuan Caniago, Pili, Tanjuang
dan Sikumbang Nagari Lawang, beserta Tungkatan beliau, Imam Khatib, Cadiak
Pandai serta engku Niniak Mamak beserta Tungkatan yang akan dilantik.
Selain dari gelar untuk Pangulu dan
Tungkatan yang akan ditetapkan, juga harus dihadiri oleh pemangku gelar Datuak Adat, Imam dan Khatib yang baru.
Ketua panitia pelaksana Dt. Asa Bagindo
menyampaikan, “Dalam acara Takuak Hari tersebut penetapan gelar untuk engku
Niniak Mamak 6 orang, Tungkatan 5 orang serta untuk gelar Datuak Adat, Imam dan
Khatib lebih kurang 20 orang, semuanya merupakan suku Caniago.
Gelar pangulu dan tungkatan pasukuan Caniago
Nagari Lawang dari 11 orang yang akan tetapkan tersebut adalah dari Payuang
Panji e. Dt. Nankodoh Nan Tuo, e. Dt. Nankodoh Rajo, e. Dt. Tan Marajo, e. Dt.
Simarajo Nan Labiah, e. Dt. Sinaro dan e. Dt. Tinaro Nan Hitam.
Beliau juga menambahkan prosesi adat batagak
pangulu, hari ini adalah Takuak Hari, dan tiga acara prosesi lagi yaitu pada hari
sabtu untuk penyembelihan kerbau dan meletakkan Saluak ke pangulu yang baru dipilih, hari minggu peresmian dengan acara Baralek Tagak Pangulu dan hari seninnya
adalah arak-arakan”, ungkap beliau.
Banyak yang tidak mengetahui bahwa Nagari Lawang juga memiki daerah
untuk wisatawan. Nagari Lawang terletak di Kecamatan Matur Kabupaten Agam
Sumatera Barat. Kabupaten Agam ini terdiri dari 16 Kecamatan salah
satunya yaitu Kecamatan Matur. disinilah letak Wilayah Nagari Lawang yang
dikepalai oleh seorang Wali Nagari. berdasarkan peta geografis Nagari Lawang
dengan luas lebih kurang 1.669 hektar yang dihuni oleh sekitar 3.837 jiwa
penduduk atau lebih kurang 1.037 kepala keluarga. untuk menempuh Lawang lebih
kurang 25 Kilo meter dari Kota Bukittinggi. Dengan perbatasan wilayahnya adalah
:
- Sebelah Barat
Berbatasan dengan Nagari Matur Hilir
- Sebelah Timur dengan
Maninjau (Kecamatan Tanjung Raya)
- Sebalah Utara dengan
Nagari Matur Mudik dan
- Sebelah Selatan
berbatasan dengan Nagari Tigo Balai
Di Nagari Lawang
tersebut terdiri 6 Jorong :
1. Jorong Ketaping
2. Jorong Batu Basa
3. Jorong Lawang Tuo
4. Jorong Gajah Mati
5. Jorong Buayan
6. Jorong Pabatuangan
Puncak Lawang dengan ketinggian 1.210 m dari permukaan laut kita
dapat menikmati keindahan kawasan Danau Maninjau dan Samudra Indonesia. Tidak
heran, tempat ini sejak zaman penjajahan Belanda sudah menjadi pilihan
peristirahatan kaum bangsawan Belanda. dari Puncak Lawang kita dapat nikmati pandangan
yang memukau, birunya langit yang berpadu dengan birunya laut. Bahkan karena
kekagumannya, Presiden RI pertama Soekarno pun juga pernah membuat puisi
mengenai keindahan panorama Danau Maninjau itu.
Pemandangannya yang sangat dahsyat, udara yang sejuk
serta seakan-akan Anda bisa menyentuh langsung awan. dibawahnya terhampar luas
kawasan Danau Maninjau.
Danau Maninjau adalah sebuah danau vulkanik yang
terletak di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat,
Indonesia. Danau dengan luas sekitar 99,5 km2 dengan kedalaman mencapai 495
meter ini merupakan danau terluas kesebelas di Indonesia, dan terluas kedua di
Sumatra Barat. Menurut cerita, Danau Maninjau pada awalnya merupakan gunung
berapi yang di puncaknya terdapat sebuah kawah yang luas. Oleh karena ulah
manusia, gunung berapi itu meletus dan membentuk sebuah danau yang luas.
Wisatawan yang datang ke Puncak lawang bukan hanya
wisatawan domestik, bahkan orang asingpun ikut berwisata di sana. Di kawasan
Puncak Lawang lokasinyapun ada beberapa titik atau tempat wisata seperti puncak
lawang, relay dan Lawang Park.
Keindahan Puncak lawang ini adalah pemandangan
menikmati keindahan Danau Maninjau. Jika kita ingin turun menuju Danau Maninjau
bisa melewati jalan utama dari Embun Pagi dan jalan kecil langsung dari puncak
lawang melewati lembah dan rimba. Kalau ingin melewati Jalan Utama Kita dapat
menggunakan kendaraan pribadi atau bus umum. Perjalanan ke sana akan
mengharuskan kita melewati kawasanKelok Ampek
Puluah Ampek (dalam bahasa indonesia 44 tikungan). karena
memang menjelang kita sampai diDanau Maninjau, kita akan melalui tikungan tajam
sebanyak 44 kali. Pada tiap tikungan yang tajam itu, selalu diberi tanda
penomoran sudah berapa tikungan yang kita lewati, dan semua tikungan itu berjumlah
44 buah. Menjelang sampai di bawah, kita akan menjumpai aneka macam souvenir
seperti topi dari anyaman pandan, tas kampia, koleksi kalung, gelang dari
tulang serta tanaman menjalarbuah labuyang berkhasiat obat sekaligus dapat
dijadikan penganan.
Begitu sampai di bawah, maka anda akan disambut sebuah
simpang tiga. Bila belok ke kiri, maka anda bisa pergi berkunjung ke rumah
kelahiran Buya Hamka diSungai Batang,
tepatnya di Kampung Muaro Pauh. Di sebuah rumah sederhana 1908 atau 1325
Hijriah disitulahHamka
dilahirkan. Sekarang bangunan bersejarah itu telah ditempatkan
sebagai museum rumah kelahiranBuya Hamka.
Hanya kisah dan dokumentasi tentang Buya Hamka yang relatif lebih banyak
tersedia di Maninjau. Selain dikenal luas oleh masyarakat sebagai tokoh ulama
pembaru Islam, catatan sejarah Hamka juga masih tersimpan rapi di rumah
bergonjong yang dibangun sebagai Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka. Di rumah
itulah tersimpan aneka foto, memorabilia, serta buku-buku buah karya Hamka,
termasuk novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk. Hanif Rasyid, anak guru Hamka,
yakni Buya Mansyur, sekaligus pengelola museum, juga mengetahui persis
kehidupan Hamka berikut pemikiran tokoh ini. Bila belok ke kanan, anda bisa
menujuLubuk Basung,
ibukota kabupaten Agam. Perjalanan menuju Puncak Lawang salah satu perjalanan
wisata yang mesti kita lakukan, karena tidak hanya satu sensasi objek wisata,
tetapi sensasi lainnya juga akan tercipta. Pastikan Anda ikut melakukan
perjalanan ini:
KEUNIKAN
Keunikan di Nagari Lawang ini adalah DUA
NAGARI DALAM SATU KANTOR. Bila menyebut nama Nagari Lawang, sejatinya,
tidaklah lengkap kalau tak membawa serta nama Nagari Tigo Balai. Ya, keduanya
adalah ‘nagari kembar’ (tetangga Nagari Lawang) yang hampir bisa dipastikan
tidak ditemukan di daerah lain. Antara Lawang dan Tigo Balai sulit untuk
dipisah.
Cobalah perhatikan kantor walinagarinya. Kedua
nagari berkantor di satu gedung yang sama. Koridor yang ada di kantor itulah,
menjadi perbatasan resmi kedua nagari. Bila masuk ke kantor Walinagari Tigo
Balai, itu artinya Anda juga telah memasuki kantor Walingari Lawang.
Demikian pulalah halnya dengan Balai (pasar)
sebagai salah satu pertanda keberadaan sebuah nagari di Minangkabau. Kedua
nagari hanya punya satu pasar yang terletak persis di depan kantor walinagari.
“Pengelolaan pasar ini dilakukan secara bersama
antara kedua nagari. Sekali empat tahun dipergilirkan kepengurusannya. Kalau
ketua dari Lawang, maka sekretaris dari Tigo Balai. Begitu pula sebaliknya.
Sulit juga dipastikan, entah sejak kapan kehamonisan ini dimulai.
Kalau di kantor kedua walinagari yang satu atap
itu dilayani beragam urusan kemasyarakatan, maka di balai itu diperjualbelikan
beragam produksi pertanian masyarakat yang ada di kedua nagari. Tidak jarang
pula, pedagang pengumpul dari Bukittinggi datang ke pasar yang diramaikan
setiap Jumat dan Senin itu untuk membeli Saka Lawang, tebu, kulit manis dan
hasil pertanian lainnya untuk kemudian dijual kembali ke Bukittinggi, Padang,
Pekanbaru dan Jambi.
Sebenarnya dahulu, entah tahun berapa, Lawang
dan Tigo Balai pernah berada dalam satu nagari yang diberi nama Nagari Lawang
Tigo Balai. Pada masa itulah kantor walinagari yang kini dipergunakan itu
dibangun. Bersamaan dengan pembangunan kantor walinagari, dibangun pula pasar
serikat yang oleh Lawang dinamakan dengan Pasa Lawang, sementara warga Tigo
Balai menyebutnya sebagai pakan sinayan. Kini, nama itu dilebur menjadi Pasar
Lawang Tigo Balai. (Anton)
Silahkan ditonton juga video cinematik Puncak Lawang
Falsafah atau pandangan hidup masyarakat adat
Minagkabau adalah"adat basandi syarak syarak basandi
kitabullah"(ABS-SBK)"syarak mangato, adat mamakai, alam takambang
jadi guru"
Dalam hal ini akal dan budi, keluasan perasaan budi
sangat berperan,"manusia tahan kieh, binatang tahan lacuik, kilek
baliung alah ka kaki, kilek kaco alah kamuko, tagisia lah labiah bak kanai,
tasinggung labiah bak jadi".Pepatah tersebut menuntut kearifan dan kebijaksanaan
manusia dalam berkata bertindak dan bekerja. Sehingga disebut pula dalam adat"nan bagarih babalabeh"sebagai hasil kearif bijaksanaan.
Seni ukir Minangkabau tidak bisa
dilepaskan dengan masyarakat Minangkabau itu sendiri. Karena seni ukir
tradisional Minangkabau merupakan gambaran kehidupan masyarakat yang dipahatkan
pada dinding rumah gadang, merupakan wahana komunikasi dengan memuat berbagai
tatanan sosial dan pedoman hidup bagi masyarakatnya. Marzuki Malin Kuning (1897
– 1987) ahli ukir dari Ampat Angkat Candung menjelaskan “Seni ukir yang
terdapat pada rumah gadang merupakan ilustrasi dari masyarakatnya dan ajaran
adat yang divisualisasikan dalam bentuk ukiran, sama halnya dengan relief yang
terdapat pada candi Borobudur”.
Tetapi kenyataan yang ada, bahwa seni ukir
tradisional pada rumah gadang telah kehilangan jati diri dan peranannya di masa
sekarang. Masyarakat Minangkabau tidak banyak lagi yang mengetahui tentang
nilai estetikanya, apa lagi makna filosofi yang terkandung di dalamnya. Hal ini
disebabkan karena kurangnya kepahaman pada nilai-nilai estetika dan makna-makna
adat yang terkandung dalam seni ukir tersebut. Untuk itu perlu dikaji ulang dan
digali kembali, agar jangan kehilangan nilai dan makna seni ukir tradisional
itu di tengah-tengah masyarakat pendukungnya.